Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Rekor Baru Emisi Obligasi, Pasar Efek Masih Terbatas

Fokusbisnis.com, Jakarta – Penerbitan obligasi korporasi pada 2016 diperkirakan akan melampaui capaian penerbitan pada 2015. Direktur Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), Wahyu Trenggono, mengatakan untuk target emisi obligasi tahun ini diperkirakan bisa menembus rekor baru dibanding tahun sebelumnya.

Hal tersebut dikarenakan karena pelaku pasar mulai melirik obligasi sebagai salah satu alternatif pembiayaan usaha. Selain itu, investor juga melihat dari sisi perbankan yang mulai memiliki pembatasan. “Jadi kalau sebelum – sebelumnya itu 62 triliun rupiah, sedangkan tahun ini bisa mencapai 70 triliun rupiah,” ungkapnya di Jakarta.

Kemudian juga dari sisi perbandingan antara dana masyarakat dan dana yang bisa dikeluarkan itu sudah maksimal. “Nah itulah sebabnya kenapa para pelaku pasar melirik obligasi sebagai salah satu hal yang harus dipersiapkan, agar dikemudian hari bisa mengakses pasar tersebut dengan lebih cepat,” jelas Wahyu.

Terkait dengan tax amnesty, Wahyu mengatakan pelaku pasar bisa melihat akan adanya dana masuk. Pasalnya, likuiditas itu harus dilihat dari sisi investor yang menaruh dana tidak dalam bentukan tunai saja dan tidak masuk ke dalam deposito semuanya. Untuk itu, dana tersebut harus diinvestasikan ke sektor riil ataup sektor finansial.

Lalu melihat dari sektor finansial juga masih banyak yang harus dipersiapkan untuk bisa menyambut dana tersebut. Apalagi melihat dari sisi jumlah yang beredar di Indonesia ini masih sangat terbatas.

“Jadi instrumen yang beredar masih terbatas, baik obligasi korporasi, komersial paper, premission note, dan instrumen-instrumen lainnya seperti, SUN, SBN dan sebagainya itu masih sangat terbatas. Jadi kita perlu menambah,” terang Wahyu.

Menurut Wahyu, kalau ingin tax amnesty bisa sukses dari sisi emiten, pelaku pasar, dan regulator harus banyak menyiapkan instrumen-instrumen baru, sehingga nanti jika dana masuk mereka bisa tahu ini mau di taruh di mana. “Kalau yang saya dengar dari OJK sedang mempersiapkan proses untuk mempercepat penerbitan obligasi korporasi,” ujarnya.

Wahyu mengataka, instrumen yang menarik merupakan hal yang sangat dibutuhkan emiten ketika menerbitkan obligasi atau MTN (medium terms note). Kemudian, kalaupun ingin menerbitkan obligasi itu bisa lebih cepat dan murah.

“Itu sangat penting begitu kita kalau bicara tax amnesty. Jadi dalam enam bulan ke belakang atau enam bulan ke depan kita akan bisa menyiapkan bagaimana dana-dana yang masuk itu bisa tercover semuanya,” jelasnya.

Sementara itu, analis MNC Securities, I Made Adi Saputra, menuturkan dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai 383 miliar rupiah dari 24 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan dua hari lalu.

“Obligasi I PP Properti Tahun 2016 Seri A (PPRO01A) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai 57 miliar rupiah dari dua kali transaksi dengan harga rata-rata di level 100,05 persen dan diikuti oleh transaksi Obligasi Berkelanjutan II FIF Tahap IV Tahun 2016 Seri A (FIFA02ACN4) senilai 40 miliar rupiah dari 1 kali transaksi di harga 100,07 persen,” jelasnya. (mae/fkb)