Makanan Jepang 750

Pembukuan Sederhana untuk Usaha Restoran

Konsultasi Keuangan Bersama: Ahmad Gozali

PERTANYAAN:
Pak, saya tertarik sekali membuka usaha restoran. Tapi saya masih awam mengenai pembukuannya. Bisakah dijelaskan bagaimana caranya membuat pembukuan sederhana untuk usaha restoran? Selain itu saya juga ingin tahu mengenai kiat menentukan besaran laba yang ditahan untuk digunakan sebagai pengembangan usaha? Terima kasih sebelumnya. (Indra Sasmita – Tangerang)

JAWABAN:
Memang pembukuan usaha sangat penting peranannya. Selain pihak eksternal seperti pemodal, bank, dan kantor pajak, sebetulnya proses pembukuan dan laporan keuangan sangat diperlukan oleh pihak manajemen dalam melakukan evaluasi atas kinerja mereka. Dengan adanya pembukuan yang handal dan informatif, manajemen bisa menetapkan kebijakan yang tepat untuk kemajuan usaha.

Misalnya saja, data penjualan bisa diukur trennya dari laporan keuangan. Kita juga bisa melihat bagaimana evaluasi strategi pemasaran yang sudah berjalan. Bahkan pembukuan yang disajikan secara informatif bisa dengan jelas menggambarkan perilaku konsumen seperti frekuensi kunjungan dan pembelian kembali, produk favorit, demografi pelanggan dan sebagainya.

Anda bisa meminta seorang konsultan untuk membuat sistem pembukuan yang handal dan ekonomis, baik itu manual maupun secara terkomputerisasi. Sedangkan untuk pembuatan laporannya cukup dengan mengandalkan tenaga terlatih lulusan SMK Bisnis Manajemen (SMEA).

Atau jika Anda ingin membuat sendiri pembukuannya, lakukan saja pembukuan sederhana sebagai berikut:

Agar proses pembukuan bisa dilakukan dengan sederhana dan murah, kita harus mengintegrasikan antara pembukuan dan sistem operasional yang lain. Ada dua proses yang perlu diperhatikan, yaitu proses uang keluar, dan uang masuk. Proses uang keluar adalah pembelian dan pembayaran beban-beban. Sedangkan proses uang masuk adalah penjualan kepada konsumen.

Proses Uang Keluar

Untuk mengatur uang keluar, buatlah dua folder terpisah, yaitu folder “Belum Dibayar” dan “Sudah Dibayar”. Semua tagihan dari supplier yang belum dibayar, dilampiri dengan daftar pesanan serta rekap barang masuk disimpan dalam folder “Belum Dibayar”. Pastikan bahwa barang yang dipesan sesuai dengan barang yang masuk. Dan nominalnya juga sesuai dengan tagihannya untuk mencegah korupsi dan manipulasi.

Jika pembayaran sudah dilakukan, lampirkan juga bukti pembayarannya lalu pindahkan dokumen ini ke dalam folder “Sudah Dibayar”. Begitu juga untuk beban yang dibayar tunai seperti gaji, listrik dan lainnya; langsung masukkan kuitansinya dalam folder “Sudah Dibayar”. Lalu lintas dokumen dalam kedua folder ini dicatat dalam “Buku Hutang”.  Sedangkan arus uangnya sendiri dicatat dalam “Buku Kas”.

Proses Uang Masuk

Untuk mendokumentasikan uang masuk secara manual, buat tanda terima rangkap dua dan diberi nomor yang telah tercetak secara terurut. Atau gunakan mesin kasir untuk lebih memudahkan. Setiap konsumen diberikan perincian tagihan oleh pelayan di mejanya masing-masing dan membayar tagihannya di kasir. Setelah membayar, faktur asli diberikan kepada konsumen, dan salinannya untuk arsip.

Setelah menutup toko atau pada saat pergantian shift kasir, cocokkan antara uang yang ada di laci dengan jumlah yang tertera pada setiap faktur yang sudah dikeluarkan. Pastikan juga fakturnya lengkap terurut, jika ada yang hilang berarti kasir harus mempertanggungjawabkannya. Catat pemasukan ini dalam “Buku Kas”.

Walaupun salinan faktur atau lembar tagihan yang memuat rincian pembelian tiap konsumen sudah tidak terpakai setelah dicatat dalam Buku Kas, simpan dokumen ini dengan baik. Karena jika rincian pembeliannya dicatat dalam rekap tersendiri, kita bisa melihat produk apa yang paling disukai oleh konsumen. Hal ini penting untuk penentuan menu dan pembelian bahan mentah nantinya.

Laporan Keuangan

Laporan keuangan terdiri dari “Laporan Laba Rugi”, “Laporan Arus Kas”, dan “Neraca”. Anda bisa membuat Neraca satu tahun sekali saja, sedangkan untuk Laporan Arus Kas dan Laporan Laba Rugi sebaiknya dibuat satu bulan sekali.

Untuk menyusun Laporan Arus Kas, caranya mudah saja. Rekap saja daftar pengeluaran dan pemasukan dalam Buku Kas. Pemasukan dikurangi dengan Pengeluaran, maka didapat Kas Bersih, jika ditambahkan dengan saldo kas bulan lalu, maka jumlahnya adalah saldo kas bulan ini. Jumlah ini harus sama dengan jumlah uang yang dipegang di bank maupun di kasir.

Sedangkan Laporan Laba Rugi bisa dibuat dengan memodifikasi Laporan Arus Kas. Yaitu dengan mengubah “Pengeluaran” pada Laporan Arus Kas menjadi “Beban”, dan tambahkan dengan biaya-biaya yang dibayarkan di awal/akhir. Misalnya biaya sewa yang dibayar Rp 12 juta di awal tahun, kita masukkan jumlahnya Rp 1 juta per bulan. Pemasukan dikurangi dengan Beban, maka didapatlah Laba Bersih atau Rugi Bersih.

Ahmad Gozali, AG Business Intellegence, Email: gozali@ perencanakeuangan.com