Anggota Dewan Komisioner OJK sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Nelson Tampubolon.

OJK Akui Pelaku Pidana Perbankan Didominasi Kasus Kredit

Fokusbisnis.com, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan tindak pidana perbankan sejak 2014 hingga saat ini masih didominasi kasus kredit dan rekayasa pembukuan. Masih tingginya kasus tersebut menandakan bank harus meningkatkan pengelolaan agar tidak tidak menggerus reputasinya sebagai lembaga kepercayaan.

Anggota Dewan Komisioner OJK sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Nelson Tampubolon dalam sambutannya pada acara sosialisasi Penanganan Dugaan Tindak Pidana Perbankan dan Forum Anti-fraud mengatakan, kasus yang telah dilimpahkan bidang pengawas perbankan ke departemen penyidikan OJK pada 2014 sebanyak 59 kasus, lalu turun menjadi 23 kasus pada 2015.

Hingga triwulan III-2016, jumlah kasus yang dilimpahkan sudah mencapai 26 kasus. Berdasarkan statistik penanganan Tindak Pidana Perbankan (Tipibank), jenis kasus tindak pidana perbankan pada 2014 sampai triwulan III-2016 adalah kasus kredit dengan persentase 55 persen, disusul rekayasa pencatatan 21 persen, penggelapan dana 15 persen, transfer dana 5 persen dan pengadaan aset 4 persen.

OJK, kata Nelson, terus menjalin kerja sama dan koordinasi dengan aparat penegak hukum dan industri perbankan untuk mencegah terjadinya dugaan tindak pidana perbankan maupun proses penanganan dugaan tindak pidana perbankan.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, juga dilaksanakan sosialisasi penanganan dugaan tipibank dengan pembicara dari OJK dan Forum Anti Fraud yang beranggotakan kurang lebih 40 bank umum. Forum tersebut bertujuan untuk meningkatkan kerja sama antarbank dalam pencegahan dan penanganan fraud di industri Perbankan.

“Melalui forum ini, OJK akan memperoleh lebih banyak informasi modus Fraud di perbankan dalam rangka mendukung tugas pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor perbankan,” kata Nelson di Jakarta.

Nelson, dalam kesempatan itu, mengatakan kegiatan yang dirangkai dengan peluncuran buku itu dimaksudkan untuk memperbanyak sosialisasi dan edukasi serta menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai tindak pidana perbankan dan menumbuhkan kesadaran dalam memanfaatkan produk dan jasa keuangan, khususnya perbankan.

“Sosialisasi dan peluncuran buku Pahami dan Hindari ini dilakukan selain untuk melindungi konsumen perbankan juga untuk menghindari dampak pada reputasi bank sebagai lembaga kepercayaan sehingga diperlukan upayaupaya pencegahan penyimpangan ketentuan perbankan agar iklim perbankan tetap kondusif,” papar Nelson.

OJK, kata Dia, akan menjalankan tugas menjaga kepercayaan masyakat terhadap industri perbankan dengan terus menekan tindak pidana perbankan sehingga masyarakat terlindungi dengan baik. (mae/fkb)