Bank Indonesia.

Kredit Bermasalah Bikin Ruwet Bank Indonesia

Fokusbisnis.com, Jakarta – Bank Indonesia (BI) menyatakan tekanan kredit bermasalah atau Non Performing Loans (NPL) sejak awal tahun ini mulai berkurang sehingga diperkirakan cenderung melandai tahun depan.

Direktur Eksekutif Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI), Juda Agung mengatakan, penurunan NPL itu karena permintaan pembiayaan baru mulai meningkat sehingga volume kreditnya bertambah. “Kalau permintaan meningkat, maka NPL terus menurun, sehingga pertumbuhan NPL mulai melandai,” kata Juda di Jakarta.

Selain permintaan meningkat, sektor pertambangan yang selama beberapa tahun berkontribusi besar terhadap NPL kini mulai bergeliat sehingga mulai melakukan pembayaran utang ke bank. Demikian juga dengan sektor perkebunan yang mulai pulih seiring dengan peningkatan harga komoditas di pasar global.

“Tambahan NPL kian kecil. Kalau kita ambil garis lurusnya, penurunan rasio kredit turun pada triwulan II dan III. Kondisi itu akan menjadi normal dan perbankan mulai salurkan lagi kreditnya,” ungkap Juda.

Direktur Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Parjiono mengatakan sektor pertambangan mulai bergeliat setelah beberapa tahun terpuruk terkena dampak pelambatan ekonomi global. “Sektor tambang tumbuh 0,1 persen sehingga NPL akan melandai meskipun kondisi ekonomi global belum membaik,” kata Parjiono.

BI dalam rapat dewan gubernur pada Oktober lalu menyatakan sistem keuangan tetap stabil dengan ketahanan sistem perbankan yang terjaga. Pada Agustus 2016, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 23,0 persen, dan rasio likuiditas berada pada level 21,1 persen. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 3,2 persen (gross) atau 1,5 persen (net).

“Transmisi pelonggaran kebijakan moneter melalui jalur suku bunga terus berlangsung, tercermin dari berlanjutnya penurunan suku bunga deposito dan kredit,” sebut BI.

Meski demikian, transmisi melalui jalur kredit belum optimal, terlihat dari pertumbuhan kredit yang masih terbatas sejalan dengan permintaan yang masih lemah. Pertumbuhan kredit pada Agustus 2016 tercatat sebesar 6,8 persen dibandingkan periode sama tahun lalu (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 7,7 persen.

Pembiayaan ekonomi melalui pasar modal, seperti penerbitan saham, obligasi, dan medium term notes (MTN), meningkat. (mae/fkb)