2015-12-08 13.48.47

Jack Ma yang Bersahaja, Sang Digitalpreneur Pemilik Alibaba Group

Fokusbisnis.com, Jakarta – Kesuksesan dan latar belakang pendidikan tak selalu linear. Pendiri Alibaba Group, Jack Ma, adalah salah satu contohnya.
Meski memiliki latar belakang guru bahasa Inggris, Ma kini dikenal sebagai salah satu entrepreneur teknologi paling sukses di dunia. Kebesarannya muncul di antara nama-nama besar yang memiliki latar belakang teknologi seperti Bill Gates, Steve Jobs, maupun Mark Zuckerberg.

“Saya bukan orang teknologi. Saya melihat teknologi dari mata konsumen saya, mata orang normal,” kata Jack Ma. Dalam beberapa kali kesempatan, Ma mengakui bahwa dirinya memang awam terhadap teknologi.

Jauh ke Depan. Jack Ma, kelahiran Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok dibesarkan pada masa revolusi budaya Tiongkok. Orang tuanya adalah seorang pemain drama tradisional Tiongkok. Ma bahkan pernah dua kali gagal masuk universitas sebelum akhirnya masuk ke sekolah tinggi untuk pendidikan guru. Ma kemudian menjadi guru bahasa Inggris—bahasa yang telah ia pelajari sejak remaja.

Ma memang memiliki visi jauh ke depan. Ketika orang Tiongkok belum terpikir belajar Bahasa Inggris, sejak kecil Ma sudah belajar bahasa tersebut. Bahkan Ma remaja rela bekerja tanpa dibayar untuk menjadi pemandu wisatawan asing di sebuah hotel di Hangzhou.

Berbekal kemampuan bahasanya, Ma sering diajak pengusaha Tiongkok untuk menjadi translator. Di tahun 1995, Ma pun menginjakkan kaki di Amerika Serikat. Saat bertemu temannya di Seattle, Ma pun berkenalan dengan internet. Ketika mencari informasi soal bir, Ma tidak menemukan satu informasi soal bir Tiongkok. Dari pengalaman itulah, Ma melihat potensi untuk mengembangkan bisnis online di Tiongkok, dimulai dengan menterjemahkan bahasa China ke bahasa Inggris.

Tahun 1995, Ma mendirikan “China Pages”, sebuah website tentang indeks bisnis di Tiongkok sekaligus perusahaan internet pertama di Tiongkok. Ia memulainya bisnisnya dengan hanya 1 meja di tengah kantor dan 1 unit komputer yang digunakan banyak orang. Ayah dua anak ini menghabiskan banyak uang untuk melakukan registrasi bisnis-bisnis. Ia juga berjuang keras untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah untuk bisnis barunya.

Tahun 1997, Ma meninggalkan “China Pages” dan bergabung dengan pemerintah. Ma menjadi pemimpin perusahaan teknologi informasi yang dibangun oleh China International Electronic Commerce Center, sebuah departemen dari Kementerian Perdagangan Luar Negeri dan Kerjasama Ekonomi Tiongkok pada tahun 1998-1999.

Awal Mula Alibaba. Lepas dari jabatan tersebut, Ma kemudian mendirikan Alibaba.com, sebuah website yang menjadi “pasar” business to business berskala global.

Nama Alibaba tercetus saat Jack Ma duduk di sebuah kafe di San Francisco. Alasannya, Jack ingin nama yang diketahui semua orang di seluruh dunia. Jack Ma pun sempat menanyakan pelayan kafe soal arti Alibaba. Ketika pelayan kafe tersebut mengiyakan, Jack Ma pun mantap memilih nama tersebut.

Alibaba.com menghubungkan para eksportir Tiongkok dengan pembeli dari asing. Momentum terasa pas karena kala itu perekonomian Tiongkok mulai menggeliat dan pebisnis Tiongkok membutuhkan satu wadah untuk bertransaksi dengan dunia luar. Tak heran jika Alibaba ikut menangguk sukses.

Sukses dengan Alibaba, tahun 2013 Ma memperluas usahanya dengan mendirikan Taobao, sebuah platform consumer-to-consumer. Sadar akan kekuatan eBay yang kala itu menjadi raja online shopping di Tiongkok, Ma pun mengambil strategi “gila”. Ia gratiskan transaksi penjualan yang terjadi Taobao, baik dari sisi penjual maupun pembeli.

Ma harus “berdarah-darah” karena uangnya tergerus untuk pengembangan Taobao ini. Namun strategi Ma berhasil. Dalam sebuah konferensi pers pada Oktober 2005, Ma mengungkapkan bahwa Taobao berhasil menguasai 70 persen pangsa pasar untuk online shopping di Tiongkok.

“Kami akan menjadi satu perusahaan yang tersisa sebentar lagi. eBay tinggal menghitung hari,” katanya dengan penuh keyakinan ketika itu. Apa yang disampaikan Ma terbukti karena pada tahun 2006. eBay memutuskan untuk meninggalkan pasar Tiongkok dan menyerahkan operasionalnya kepada perusahaan internet yang dikuasai Li Ka-shing, seorang milyuner asal Hong Kong.

Alibaba dan produk turunannya pun kini menjadi jantung bisnis online di Tiongkok. Dua website utama milik Alibaba, Taobao Marketplace dan Tmall.com, kini menguasai 60 persen dari paket-paket yang dikirimkan melalui sistem pos Tiongkok. Alipay, sistem pembayaran online milik Alibaba, mengontrol separuh pembayaran online di Tiongkok.

“Perusahaan ini dalam lima tahun ke depan akan berbeda secara total,” katanya dalam wawancara dengan Bloomberg Businessweek tahun 2012 lalu. “Kami ingin membangun sebuah perusahaan dalam sejarah Tiongkok yang belum pernah dilihat siapapun sebelumnya,” lanjutnya.

Berjiwa Dermawan

Memasuki tahun 2014, Alibaba membuat gebrakan dengan rencana melakukan IPO (Initial Public Offering) di bursa saham AS pada pekan ini.

Menurut Fortune, nilai perusahaan Alibaba bisa mencapai US$162,7 miliar dengan perkiraan harga US$66 per lembar saham, menempatkan Alibaba sebagai perusahaan internet terbesar ketiga yang tercatat di pasar saham setelah Google dan Facebook dan di atas Amazon.

Pada IPO-nya, Alibaba diprediksi bisa memperoleh dana segar sekitar US$21,1 miliar yang berarti mencatatkannya sebagai pemegang rekor IPO terbesar di bursa saham AS. Rekor ini sebelumnya dipegang Visa yang berhasil menjual saham senilai US$17,9 miliar pada IPO-nya di tahun 2008. Sementara itu, IPO Facebook pada tahun 2012 lalu menghasilkan dana sebesar US$16 miliar.

Penjualan saham Alibaba tentu saja akan semakin menambah pundi-pundi uang Jack Ma. Saat ini, pria berusia 49 tahun itu berada di posisi 153 dalam daftar orang terkaya di dunia versi Forbes dengan harta sebesar US$8,7 miliar. Majalah BusinessWeek juga menyebut Jack Ma sebagai “Orang Paling Berpengaruh di Tiongkok”.

Di tengah ketenaran dan gelimang harta, Ma tak lupa mendonasikan sebagian besar hartanya. Bersama dengan pendiri Alibaba lainnya, Joseph C. Tsai, Ma mendonasikan 2 persen saham Alibaba pada yayasan amal yang akan mendanai prakarsa di bidang lingkungan, kesehatan dan pendidikan. Tidak heran jika Forbes Asia menobatkannya sebagai “Asia’s Heroes of Philanthropy” karena perannya dalam program pemulihan bencana dan kemiskinan.

Apa yang dilakukan Jack Ma memang selalu konsisten dengan prinsip hidupnya bahwa manusia lahir untuk selalu membuat segala sesuatu menjadi lebih baik untuk orang lain.

“Saya selalu mengatakan kepada diri saya sendiri bahwa kita terlahir di sini bukan untuk bekerja, tapi untuk menikmati hidup. Kita di sini untuk membuat segala sesuatunya lebih baik untuk satu sama lain dan tidak untuk bekerja. Jika Anda menghabiskan seluruh waktu untuk bekerja, Anda akan menyesalinya,” pesan Ma. Demikian seperti dikutip media Info Kumputer. (tim)