pangan indonesia

Guru Besar IPB: Keamanan Pangan Indonesia Memprihatinkan

Fokusbisnis.com, Jakarta – Kondisi keamanan pangan di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Hal tersebut juga terjadi di seluruh dunia saat ini. Karena permasalahan ketahanan pangan maka berdasarkan data BPOM RI, terjadi kematian terhadap 2.500 orang dan 411.500 orang sakit.

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Prof. Purwiyatno Hariyadi mengatakan pada tataran dunia, World Health Organization (WHO) melaporkan sekitar dua juga korban meninggal dunia setiap tahunnya akibat pangan yang tidak aman.

“Bahkan di Amerika Serikat ketidaktersediaan pangan yang aman setiap tahunnya menyebabkan 5.000 orang meninggal, 76 juta orang sakit dan 325.000 dirawat di rumah sakit,” ujar Prof. Purwiyatno dalam orasi ilmiah guru besar IPB yang berjudul “Tantangan Ganda Keamanan Pangan di Indonesia: Peranan Rekayasa Proses Pangan”.

Lebih lanjut Prof. Purwiyatno mengatakan kondisi keamanan pangan adalah prasyarat dasar produk pangan, yang akan memberikan penjaminan keamanan pangan dan melekat pada upaya pemenuhan kebutuhan. Bahkan Prof. Purwiyatno mengatakan tidak relevan berbicara kuantitas dan kualitas pangan, jika pangan tersebut masih tidak aman.

Menurut Prof. Purwiyatno, konsekuensi keamanan pangan tidak hanya terhadap masalah kesehatan, karena pangan yang tidak aman juga berakibat negatif terhadap ekonomi. Kerugian akibat pangan tidak aman cukup tinggi dan menjadi beban semua pihak, baik rumah tangga (konsumen), industri, maupun pemerintah.

Laporan BPOM-RI kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh kasus kejadian luar biasa atau KLB keracunan pangan di Indonesia diperkirakan mencapai Rp2,9 triliun per tahun (BPOM-RI 2015).

“Angka ini saya yakini lebih kecil dibandingkan dengan angka yang sesungguhnya,” ujarnya.

Sebagai informasi, pada tahun 2005, biaya keamanan pangan di Indonesia telah mencapai Rp 6,7 triliun.

Angka tersebut masih terlalu kecil, termasuk jika dibandingkan dengan angka kerugian ekonomi di Amerika Serikat di mana CDC memperkirakan, bahwa pangan tidak aman telah menyebabkan biaya ekonomi sekitar 7,7 – 23 miliar dolar AS atau lebih dari Rp 100 triliun – Rp 299 triliun. (tik)