1724315prominence780x390

Ekonomi Lesu, Pengembang Ramai-ramai Garap Properti Menengah Bawah

FOKUSBISNIS.COM, JAKARTA РLesunya ekonomi dan gejolak nilai tukar Rupiah, serta pengetatan kredit berdampak besar terhadap pertumbuhan bisnis properti. Apalagi berlakunya aturan baru pajak penghasilan (PPh) atas barang sangat mewah nomor 90/PMK.03/2015 yang diteken Menteri Keuangan pada 30 April 2015, membuat para pengembang bonafid dengan aset triliunan Rupiah pun semakin agresif menggarap pasar menengah bawah sebagai peluang baru
“Bagi mereka pasar menengah atas dan mewah sudah tidak lagi menarik. Faktor pemicunya terutama perpajakan atas barang sangat mewah,” jelas CEO Leads Property Indonesia, Hendra Hartono.
Sementara pasar menengah bawah masih seksi dan sangat dinamis untuk digarap. Bahkan, menurut survei properti residensial Bank Indonesia pertumbuhan harga rumah kelas bawah mengalami kenaikan paling tinggi yakni 1,8 persen secara triwulanan pada periode Januari-Maret 2015. Begitu juga penjualan rumah tipe kecil masih lebih tinggi ketimbang tingkat penjualan rumah menengah dan atas.

Berlombanya pengembang kelas kakap menggarap pasar menengah bawah menciptakan kondisi yang serba salah. Hendra menilai, akan terjadi persaingan sengit yang nantinya bisa mematikan pengembang kelas bawah.Selanjutnya bisa terjadi situasi pengembang bawah menyalahkan pengembang atas. Sebaliknya, yang dituding bakal menyalahkan kebijakan Pemerintah.

Untuk itu, kata Hendra, pemerintah sebaiknya mewajibkan pengembang papan atas untuk memberikan kontribusi pembangunan rumah susun, infrastruktur jalan, jembatan, jalur pedestrian, sekolah dan rumah sakit di kawasan sekitar proyek yang mereka garap. (ekt)