IMG-20150701-WA0106

Menperin Anjurkan Pakai Merek Indonesia, agar Semua Jadi “Brand Ambassador”

FOKUSBISNIS.COM, JAKARTA – Makin kuatnya merek-merek Indonesia di pasar domestik maupun dalam negeri harus dikawal dengan rasa bangga memakai produk nasional.

Hal itu diyakini melejitkan merek Indonesia menghadapi gempuran produk dari luar negeri. Menteri Perindustrian Saleh Husin menekankan hal itu saat meresmikan pembukaan pameran Gelar Sepatu, Kulit dan Fesyen tahun 2015.

“Upaya branding produk nasional harus diikuti oleh kebanggaan mengenakan produk fesyen dalam negeri. Setiap kita, sebagai pelaku usaha maupun konsumen bisa berperan jadi ‘brand ambassador’ sehingga produk Indonesia semakin mendunia,” katanya di lokasi pameran di JCC, Jakarta, Rabu (1/7/2015).

Dia yakin, promosi yang dilakukan di tingkat individu menguatkan strategi pemasaran konvensional seperti iklan dan penyelenggaraan ajang pameran. “Apalagi saat ini era media sosial yang mendorong pengalaman dan testimoni membeli produk menjadi viral, bergulir ke orang lain dengan cepat dan personal,” ulasnya.

Pameran ini merupakan ajang serupa yang ke-5 dan kali ini bertema “Merek Indonesia Mendunia”. Pameran ini diakui Kemenperin menggairahkan industri kulit, sepatu dan fesyen tetap bergairah meskipun perekonomian global tengah lesu.

Menurut Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) Kemenperin, Harjanto, aktivitas promosi tidak berhenti pada pameran ini. Pihaknya bakal menggelar rangkaian pameran serupa di bandara-bandara Indonesia untuk lebih memperkenalkan produk dan merek nasional ke skala global.

Soal bahan baku, Dirjen IKTA Harjanto mengatakan pihaknya serius untuk membuat buffer stock atau persediaan cadangan. Kementerian dan beberapa lembaga di luar Kemenperin seperti bea cukai da instansi pajak juga bakal digandeng agar pengurusan dokumen menjadi satu atap.

“Seperti untuk kapas, kita akan taruh Cikarang Dry Port sehingga akan lebih efisien. Pengusaha skala kecil dan menengah yang mengambil dalam volume tidak terlalu banyak tetap dilayani denga harga yang tetap kompetitif,” ujar Harjanto.

Pengembangan industri selama ini juga melibatkan beberapa asosiasi seperti Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO), Asosiasi Penyamakan Kulit Indonesia (APKI), Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) serta Asosiasi Barang Jadi Kulit Indonesia (ABJINDO).

Dari sisi kontribusi, industri TPT, alas kaki dan penyamakan kulit merupakan salah satu sektor strategis, mengingat peranannya dalam perolehan devisa ekspor non migas sebesar USD 17,32 miliar. Penyerapan tenaga kerja tercatat sebesar 15,1 persen dari total tenaga kerja industri manufaktur serta memberikan kontribusi sebesar 1,89% terhadap PDB nasional.

Turut hadir pada pembukaan pameran, Duta Besar Irak untuk Indonesia, Abdullah Saleh dan Dirjen Industri Kecil dan Menengah Kemenperin, Euis Saedah dan Dekan Fakultas Entrepreunership Universitas Ciputra, DR David Sukardi Kodrat. (oey)