Presiden Bank Dunia, Jim Yong Kim.

Bank Dunia Targetkan, Pengentasan Kemiskinan Akan Selesai di Tahun 2030

Fokusbisnis.com, Jakarta – Bank Dunia menegaskan bahwa pengurangan ketimpangan yang tinggi semakin penting agar target pengentasan masyarakat dari kemiskinan ekstrem di tahun 2030 dapat tercapai. Laporan terkait kemiskinan dan kesejahteraan bersama di dunia menyebutkan, sekitar 800 juta orang bertahan dengan kurang dari USD1,9 per hari di tahun 2013.

Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dalam keterangan tertulisnya mengatakan, setengah dari penduduk miskin ekstrem di dunia berasal dari kawasan Afrika Sub-Sahara dan sepertiganya lagi di Asia Selatan.

”Perbaikan untuk mengentaskan rakyat dari kemiskinan ekstrem lebih banyak didorong oleh kawasan Asia Timur dan Pasifik, terutama China, Indonesia, dan India,” kata Jim Yong Kim.

Di 60 negara dari 83 negara yang tercakup oleh laporan tersebut, sejak tahun 2008 pendapatan rata-rata rakyat yang hidup di 40 persen terbawah telah meningkat, walaupun terjadi krisis keuangan di masa itu. Lebih penting lagi, kata dia, negara-negara ini mewakili 67 persen dari penduduk dunia.

Menurut Kim, yang diperlukan untuk menghentikan kemiskinan adalah perluasan lapangan kerja. Salah satu cara lainnya adalah melalui pengurangan ketimpangan yang tinggi, terutama di negara-negara di mana banyak rakyat miskin. Sejak tahun 1990, kata dia, ketimpangan di dunia telah menurun secara konsisten.

Namun, ketimpangan masih tetap terlalu tinggi dan kekhawatiran terkait pengumpulan kekayaan antara golongan terkaya semakin terasa. ”Laporan ini juga menemukan bahwa di 34 dari 83 negara yang dipantau, kesenjangan pendapatan melebar seiring dengan meningkatnya pendapatan di antara 60 persen terkaya dibanding mereka yang berada di 40 persen termiskin,” jelasnya.

Selain itu, di 23 negara, penduduk yang merupakan 40 persen golongan termiskin menderita penurunan pendapatan selama beberapa tahun, dan tidak saja bila dibanding penduduk terkaya, namun juga secara absolut. Kim mengatakan, terdapat enam strategi yang terbukti telah menambah penghasilan masyarakat miskin, memperbaiki akses terhadap layanan penting, dan memperkuat prospek pembangunan jangka panjang tanpa merusak pertumbuhan.

Pertama, dengan pengembangan gizi bagi anak usia dini. Kedua, perlindungan kesehatan. Ketiga, akses pendidikan bermutu. Keempat, bantuan tunai kepada keluarga miskin. Kelima, infrastruktur pedesaan- terutama jalan dan penyediaan listrik. Keenam, sistem perpajakan yang progresif.

Menurut Kim, langkah-langkah ini dapat memengaruhi ketimpangan pendapatan secara cepat. Sementara, yang lainnya memberi manfaaf secara bertahap. ”Tidak ada obat ajaib. Namun, semua langkah tersebut ditopang oleh bukti kuat, dan kebanyakan dalam jangkauan anggaran dan kapasitas teknis negara,” tegasnya. (mae/fkb/res)